| source dokumentasi pribadi |
Bogor — Aroma manis durian menyambut pengunjung yang mendekat ke gerobak sederhana di Jalan Ciheuleut, Baranangsiang, Kota Bogor. Kedai kecil bernama Es Durian Bang Ali Pakuan ini dalam beberapa bulan terakhir jadi magnet kuliner baru, membuat banyak orang rela antre demi menikmati es durian yang viral di media sosial.
Sejak pukul 10 pagi, antrean pembeli mulai terlihat. Sebagian datang dari sekitar Bogor, sebagian lagi sengaja menempuh perjalanan jauh karena penasaran dengan rasa es durian yang disebut-sebut bikin ketagihan. “udah sering lewat di fyp, jadi pengen deh cobain,” ujar seorang pengunjung sambil menyeruput sendok es durian yang lembut dan manis.
Es Durian Bang Ali Pakuan menawarkan beberapa varian, mulai dari es durian biasa, es podeng durian, hingga es pisang ijo dengan tambahan durian. Dengan harga yang berkisar Rp15.000–20.000, menu ini jadi pilihan terjangkau untuk para pecinta durian. Durian yang digunakan terasa kental, legit, dan masih menyisakan serat buah, sehingga rasa aslinya tetap dominan meski dipadukan dengan es dan sirup.
Viralnya kedai ini tak lepas dari unggahan video konsumen di Instagram yang memperlihatkan porsi es durian dengan ekspresi puas setelah mencicipinya. Efek FOMO dari media sosial membuat semakin banyak orang berbondong-bondong datang. Lokasinya yang strategis dekat kawasan Pakuan dan sekolah menambah daya tarik, terlebih jam bukanya pas di siang hari saat cuaca panas.
Meski begitu, viralnya kedai ini membawa tantangan tersendiri. Antrian panjang tak terhindarkan, stok durian kerap cepat habis, dan Bang Ali selaku pemilik harus memastikan bahan baku selalu segar agar kualitas tetap terjaga. Setiap kali unggahan di media sosial ramai, permintaan bisa melonjak tajam.
Es Durian Bang Ali Pakuan pada akhirnya bukan sekadar es campur durian biasa. Ia jadi bagian dari pengalaman kuliner khas Bogor: rasa yang otentik, harga terjangkau, ditambah sensasi viral yang membuat siapa pun ingin mencoba. Dari warung kecil, kini namanya sudah dikenal luas—membuktikan bahwa rasa yang tulus dan waktu yang tepat bisa membawa sebuah usaha sederhana menjadi fenomena.
0 Comments