Clickbait vs Kredibilitas: Dilema Media di Era Digita



Clickbait vs Kredibilitas: Dilema Media di Era Digital

 Media digital terjebak antara judul clickbait atau menjaga kredibilitas.

Depok– Perkembangan media jurnalistik di Indonesia tengah memasuki fase yang dinamis di era digital. Masuknya platform media sosial, algoritma mesin pencari, hingga artificial intelligence (AI) membawa tantangan sekaligus peluang baru bagi industri pers. Hal itu disampaikan oleh praktisi media, Moh. Salman Alfarisi atau akrab disapa Mas Aal, dalam wawancara mengenai masa depan jurnalistik di tanah air.

Menurut Salman, kondisi media saat ini masih menghadapi persoalan serius dalam hal user experience atau pengalaman pembaca. Ia menyoroti fenomena duplikasi konten di banyak portal berita, yang justru mengurangi kualitas pengalaman pengguna.

“Kalau dibandingkan dengan media luar, konten media di Indonesia banyak yang direplikasi. Satu berita bisa diproduksi berulang-ulang oleh berbagai media. Dari sisi SEO mungkin bagus, tapi dari sisi pembaca itu kurang baik karena esensi berita penting lain jadi terabaikan,” ungkapnya.

Fenomena “berita viral” di Indonesia, menurut Salman, bukan semata-mata lahir dari kepentingan publik, melainkan seringkali sengaja digoreng oleh media besar. Ia mencontohkan bagaimana kasus tertentu dapat mendominasi ruang publik berhari-hari, sementara berita dengan nilai penting lebih tinggi justru tertutup.

Meski demikian, ia menekankan bahwa news value atau nilai berita tetap harus menjadi pijakan utama. “Berita yang bagus itu berita yang punya value, bukan sekadar memviralkan tokoh yang sedang jalan-jalan. Sayangnya, masih ada media besar yang lebih suka mengambil konten cepat dari YouTube atau media sosial, tanpa verifikasi mendalam. Itu menurut saya bentuk jurnalisme yang malas,” kata Salman.

Temuan Salman ini sejalan dengan penelitian Solihin dkk. (2022) yang mengungkap bahwa penggunaan clickbait memang mampu mendongkrak trafik pembaca, tetapi berpotensi menurunkan kepercayaan publik dan tidak konsisten dengan etika jurnalistik (Commed: Jurnal Komunikasi dan Media).

Media Arus Utama Masih Relevan

Munculnya platform digital seperti YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya sempat memunculkan kekhawatiran bahwa media arus utama akan kehilangan dominasinya. Namun, Salman menilai media besar tetap memiliki keunggulan yang sulit ditandingi, yakni profesionalisme dan kredibilitas.

“Media seperti Kompas dan Tempo tidak khawatir kalah oleh media sosial karena mereka punya pakem profesionalisme. Berbeda dengan konten di TikTok atau YouTube yang sering hanya opini pribadi, media besar punya sumber terpercaya dan proses verifikasi. Itu yang membedakan,” jelasnya.

Menurutnya, selama media arus utama konsisten menghadirkan berita yang kredibel dengan validasi dari para ahli, maka peran jurnalis tetap relevan dan tidak akan tergantikan.

Tantangan dari AI dan Peran Jurnalis

Di sisi lain, perkembangan AI juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan profesi jurnalis. Salman yang aktif mengikuti perkembangan teknologi menilai bahwa AI berpotensi membantu proses produksi berita, tetapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia.

“AI bisa menghasilkan teks, tapi sering berhalusinasi, seolah-olah benar padahal tidak. Di sinilah peran jurnalis sebagai kurator informasi menjadi penting. Kalau kita sekadar menerima output AI tanpa validasi, kita bisa tergantikan. Tapi kalau kita mampu memverifikasi dan menyajikan berdasarkan data, justru AI bisa jadi alat bantu,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kunci utama agar jurnalis tetap relevan adalah kemampuan mengkurasi, memvalidasi, dan menghadirkan fakta yang akurat kepada publik.

Masa Depan: Kolaborasi dengan Platform Besar

Terkait dominasi platform asing seperti Google dan Meta, Salman berpendapat bahwa masa depan media Indonesia bukan soal perlawanan, melainkan kolaborasi. Menurutnya, distribusi berita tanpa dukungan platform global akan sulit menjangkau pembaca luas.

“Bukan berarti media kecil kalah oleh Google. Justru kita bisa berkolaborasi. Media tetap punya portal sendiri, tapi mendistribusikannya lewat platform seperti Google News Feed. Dengan begitu, berita kita bisa lebih mudah diakses oleh pembaca,” jelasnya.

Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Maisa Putri dan Dion Eriend (2024) yang menemukan bahwa clickbait memang masih marak digunakan media online, khususnya pada konten hiburan dan gaya hidup. Meski mampu menarik pembaca, strategi ini dinilai membawa risiko terhadap kredibilitas media jika judul dan isi berita tidak sejalan (Jurnal Komunikasi dan Diseminasi).

Pesan untuk Mahasiswa Jurnalistik

Menutup wawancara, Salman memberi pesan khusus untuk mahasiswa jurnalistik yang ingin terjun ke dunia media. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi perubahan platform, namun tetap berpijak pada kebutuhan pembaca.

“Jurnalisme itu nggak mati. Yang berubah hanyalah medianya. Kalau dulu ada majalah cetak dan koran, sekarang bergeser ke digital. Jadi jangan fokus mengejar platformnya, tapi ikuti di mana calon pembaca berada. Kalau pembaca otomotif ada di Facebook, maka media otomotif harus ada di sana,” pesannya.

Salman optimis bahwa jurnalisme akan terus hidup selama jurnalis mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, menjaga nilai berita, dan tidak kehilangan esensi profesinya sebagai penyampai informasi yang kredibel bagi publik.optimis bahwa jurnalisme akan terus hidup selama jurnalis mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, menjaga nilai berita, dan tidak kehilangan esensi profesinya sebagai penyampai informasi yang kredibel bagi publik.

*berita ini telah diterbitkan oleh netralnews.com

Post a Comment

0 Comments