JAKARTA - Sekilas terdengar mengejutkan. Tapi bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pengabdian? Maka, mari kita hargai niat baik ini. Bisa jadi, kita yang selama ini keliru mengartikan usia 70 sebagai waktu untuk istirahat bersama keluarga atau menikmati masa pensiun. Barangkali, kita salah paham pada arti produktivitas dan pengabdian.
Coba bayangkan. Di usia 70 tahun, seorang ASN tentu sudah sangat berpengalaman. Mereka paham jalur birokrasi luar dalam, hafal jalannya sistem, dan bisa jadi sudah terbukti loyal. Apa yang lebih menenangkan daripada mempertahankan orang-orang yang telah bertahan dan bertumbuh bersama sistem itu sendiri? Usia tua bukan batas. Ia mungkin simbol keabadian, terutama dalam urusan administrasi negara.
Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana dengan regenerasi? Bukankah akan lebih bijak jika membuka jalan bagi generasi muda? Tapi mari tetap berpikir positif. Mungkin ini bentuk pendidikan karakter untuk anak muda. Dunia kerja memang tidak mudah. Dan jika semua pintu tertutup, mungkin saatnya generasi muda belajar menggali jalur sendiri. Adaptif, kreatif, fleksibel. Bukankah itu yang selama ini kita kampanyekan?
Apakah ini berarti negara meragukan potensi anak muda? Tentu tidak. Ini mungkin lebih tentang penghargaan terhadap loyalitas dan pengalaman. Karena di dalam birokrasi, yang diperlukan tidak selalu semangat membara atau ide-ide segar. Terkadang, justru dibutuhkan kesabaran, ketahanan terhadap sistem, dan kemampuan menunggu keputusan rapat selama berjam-jam tanpa tanda-tanda selesai.
Jika kamu masih gelisah soal efisiensi dan produktivitas, mungkin kamu terlalu teknis. Coba lihat dari sudut pandang simbolik. Angka 70 bukan sekadar usia, bisa jadi lambang bahwa pengabdian tidak mengenal batas waktu. Dan ya, ini adalah bentuk konsistensi. Dalam dunia yang terus berubah, kita memilih untuk bertahan dengan yang sudah terbukti. Mereka yang sudah lama duduk, tak perlu disuruh menyesuaikan. Karena mereka bagian dari sistem itu sendiri.
Kalau kamu belum puas, mari pikirkan suasana kantor di masa depan. Di ruang-ruang dinas strategis, akan tersedia kursi ergonomis dengan alat bantu dengar, dispenser teh jahe, dan sesi peregangan otot sebelum apel pagi. Lingkungan kerja ramah lansia. Sebuah inovasi yang tak banyak dipikirkan generasi muda.
Tentu saja, ini bukan tentang menyudutkan para ASN senior. Banyak dari mereka yang tetap profesional bahkan melampaui generasi muda. Tapi ketika kebijakan ini dibuat tanpa pertimbangan regenerasi, ketika lebih banyak membuka ruang bagi yang sudah kenyang pengalaman daripada memberi peluang bagi semangat baru, maka kita patut bertanya. Apakah ini benar-benar untuk kepentingan bangsa?
Sayangnya, pertanyaan seperti ini sering dianggap nyinyir. Rakyat yang baik biasanya cukup percaya dan tidak banyak bertanya. Maka mari tetap pada jalur aman. Terus berpikir positif. Jangan mengeluh. Jangan bertanya.
Dan untuk kamu, generasi muda yang sedang menyiapkan berkas lamaran, jangan khawatir. Masih ada waktu. Sabar sedikit. Siapa tahu, dua dekade lagi akan ada lowongan
0 Comments